20120214

MEMBANGUN CITRA PUSTAKAWAN INDONESIA

Pustakawan! Sebuah kata yang sedang mengalami keretakkan makna, melahirkan multitafsir dan beragam persepsi. Dalam konteks keindonesiaan, pemegang kunci jendela dunia ini, kini nasibnya tidak jauh dari para pembuka pintu lintasan kereta. Masyarakat pun memberikan penghargaan kepada pustakawan lebih rendah dibanding kepada profesi lain seperti dokter, pengacara, guru, peneliti, dan lain-lain. Malah masih banyak masyarakat yang belum tahu makhluk jenis apa pustakawan itu. Di Indonesia pustakawan kalah populer dibanding dengan komen-tator artis atau dukun santet yang memang sedang menjadi hegemoni komoditas industri irrasional. Cobalah anda bertanya kepada anak-anak yang baru masuk sekolah, saya jamin tidak ada satu orang pun yang cita-citanya ingin menjadi pustakawan. Keadaan ini mengingatkan kita pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa hanya orang yang berilmu yang akan menghargai ilmu. Hanya masyarakat terdidik yang akan menghargai pustakawan. Citra pustakawan adalah cermin realitas bangsa.
Pemeritah pun menghargai pustakwan sama halnya dengan masyarakat umum. Dari semua jenis fungsional yang ada, pustakawan berada pada “kasta” yang paling rendah, tentu saja dengan tunjangannya pun yang paling sedikit 

 
No.
Jenis Jabatan
Jenjang Jabatan
Tunjangan Jabatan
1
Peneliti
Utama
1.118.000
2
Perencana
Utama
1.118.000
3
Perekayasa
Utama
1.118.000
4
Pranata komputer
Utama
1.000.000
5
Pustakawan
Utama
    500.000
6
Arsiparis
Utama
    500.000

Sumber: diolah dari Profil Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil.
Badan Kepegawaian Negara, 2004.
 
Apalagi kalau kita melihat porsi anggaran untuk keperpustakaan di dalam APBN atau APBD, porsinya tidak lebih dari 0,1%. Kita ambil contoh anggaran untuk perpustakaan di DKI Jakarta, sebagai daerah yang paling maju, untuk tahun 2005 porsinya hanya 0,08-0,1 %. Bayangkan porsi anggaran di daerah yang bukan perkotaan. Padahal kita semua tahu bahwa pendidikan tidak akan berhasil tanpa didasarkan kepada keberadaan perpustakaan. Malaysia bisa melampaui Indonesia dalam waktu yang singkat karena sekolahnya berbasis perpustakaan. Pelajaran literasi informasi atau library skill sudah diperkenalkan semenjak SMP. Mungkin dapat dikatakan lebih baik menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan yang perpustakaannya bagus tapi tidak memiliki ruang kelas, daripada ke sekolah mewah tapi tidak memiliki perpustakaan.
Yang tidak kalah menariknya adalah sebuah kenyataan bahwa keterpurukan citra pustakawan dirusak oleh “pustakawan” sendiri. Pada saat ini kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang memilukan, yaitu para pengelola perpustakaan merasa malu atau minder mengenalkan dirinya sebagai pustakawan. Sampai ada seseorang yang latar pendidikan sampai jenjang S2 perpustakaan, akan tetapi tidak digunakan untuk menunjang kariernya sebagai pustakwan, malah memilih menjadi peneliti pusdokinfo dengan alasan predikat peneliti lebih keren daripada pustakawan. Demikian juga di kalangan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, apabila ditanyakan tentang jurusan yang diambilnya, biasanya dengan malu-malu mengatakannya. Begitu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar, bidang dokinfo—yang perpustakaan berada di dalamnya—menjadi bidang untuk menampung orang-orang “buangan.” Ditempatkan di bagian perpustakaan sama dengan dimasukan kedalam “peti mati” atau karirnya telah berakhir.
Begitulah kita saksikan potret buram pustakawan dalam realitas keindonesiaan. Gambaran di atas sangat kontradiktif dengan citra pustakawan di masa lalu. Kalau kita berkaca pada sejarah, disana kita akan menyaksikan pustakawan menjadi elit politik dalam struktur sosial. Kedudukannya disejajarkan dengan tokoh spiritual dan para pemegang kebijakan, karena pada waktu itu memang perpustakaan hanya ada di dua tempat yaitu di istana (pusat kekuasaan) dan kuil atau tempat ibadah (pusat kekutan spiritual). Dari segi kompetensi pun seorang pustakawan biasanya memiliki berbagai macam kecakapan (multitalenta) dan berbagai macam bahasa (polilinguish). Sebagai contoh kita lihat misalnya Jorge Luis Borges yang pernah mengatakan "I have imagined that paradise will be a kind of library." Ia menjadi pustakawan dengan dilandasi oleh keinsafan bahwa menjadi pengelola perpustakaan merupakan panggilan jiwa bukan sekedar panggilan tugas untuk mencari nafkah. Satu lagi contoh, yang dekat dengan kesejarahan kita, adalah GP Rouffaer, ia adalah seorang pustakawan ahli pada lembaga studi kolonial (KITLV) yang menyusun Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie dan De batikkunst in Nederlandsch-Indie en haar geschidiedenis (Seni Batik di Hidia Belanda dan Sejarahnya). Rouffaer juga dilibatkan oleh Alexander Idenburg, Menteri Urusan Jajahan, dalam penelitian tentang keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pribubumi (Kompas, 8 Januari 2007)
Borguis dan Rouffaer telah tiada dan mungkin hanya mereka berdualah pustakawan ideal yang ada dalam sejarah peradaban manusia. Akan tetapi bukan hal yang mustahil bahwa citra ideal tersebut menjadi sebuah inspirasi untuk memulai membangun citra pustakawan Indonesia.

Tidak ada komentar: